Coffee Morning dan Seni Memindahkan Orang Tanpa Banyak Tanya
Kemarin tiba-tiba diinfoin bakal ada coffee morning.
LIFE
Banyu
7/24/20266 min read


Nah, kalau sudah ada kata “coffee morning”, biasanya manusia kantor langsung punya dua kemungkinan di kepala. Pertama, benar-benar minum kopi sambil ngobrol santai. Kedua, kopi hanya sebagai pajangan, sementara isinya adalah agenda yang bikin kepala ikut diseduh.
Dan entah kenapa, begitu dengar info itu, saya sudah bisa nebak.
“Wah, ini pasti ngomongin soal mutasi saya.”
Bukan karena saya cenayang. Bukan juga karena saya punya indra keenam level karyawan senior yang sudah kebanyakan makan asam garam korporat. Tapi ya rasanya polanya sudah kebaca aja. Kayak sinetron yang episode pertamanya belum selesai, tapi kita sudah tahu tokoh antagonisnya siapa.
Buat yang belum tahu, setahun atau dua tahun lalu sebenarnya pernah ada opsi saya akan dimutasi dari Operation ke Warehouse. Waktu itu saya agak bingung juga. Bukan karena saya anti pindah. Saya sih sebenarnya nggak masalah pindah ke gudang. Ilmu baru, pengalaman baru, suasana baru. Siapa tahu nanti saya bisa lebih dekat dengan kardus, pallet, stock opname, dan segala makhluk gudang lainnya.
Yang jadi masalah bukan pindahnya. Yang jadi masalah adalah caranya.
Waktu itu prosesnya terasa aneh. Nggak ada pengumuman resmi, nggak ada penjelasan yang jelas, nggak ada pembicaraan yang rapi. Tahu-tahu seperti ada angin lewat membawa kabar,
“Kayaknya kamu mau dipindah.”
Lah, ini mutasi apa bisikan ghaib?Apalagi waktu itu kebetulan sedang masa-masanya saya agak bersinggungan dengan anak emasnya si bos. Jadi ya wajar dong kalau kepala ini jadi penuh curiga. Namanya juga manusia. Kalau ada kejadian aneh berdekatan dengan konflik, otak kita langsung buka cabang investigasi sendiri.
“Ini murni kebutuhan organisasi atau ada bonus perasaan pribadi di dalamnya?”
Akhirnya waktu itu saya minta bantuan HC untuk menjelaskan proses perpindahan ini. Karena menurut saya, kalau memang perusahaan mau memindahkan orang, ya tidak apa-apa. Tapi harus jelas. Ada dasarnya, ada prosesnya, ada komunikasinya. Orang kerja itu bukan kursi plastik yang bisa digeser dari ruang meeting ke pantry tanpa diajak bicara.
Setelah itu, cerita mutasi ini hilang begitu saja.
Sunyi.
Senyap.
Seperti chat penting yang cuma dibaca tapi tidak dibalas.
Lalu sekarang, tiba-tiba muncul lagi.
Pertengahan bulan ini, jabatan saya akan berubah. Bukan diajak ngobrol dulu. Bukan dipanggil resmi dulu. Bukan dijelaskan dulu sambil dibukakan slide yang elegan. Tahu-tahu langsung dikasih tahu bahwa saya akan pindah.
Mantap.
Ini bukan mutasi, ini seperti update aplikasi. Bangun-bangun versi sudah berubah, fitur belum tentu siap, bug tetap ada. Yang pertama menginformasikan adalah atasan langsung saya. Begitu beliau menyampaikan, kami berdua langsung bertanya. Saya dari sisi Fleet, rekan kerja saya dari sisi Warehouse, karena posisi kami akan bertukar.
Kami “serang” beliau.
Maksudnya bukan diserang pakai tombak atau kursi meeting ya. Ini kantor, bukan film kolosal. Diserangnya pakai pertanyaan.
"Apa dasarnya?"
"Apa pertimbangannya?"
"Apa kompensasinya?"
"Kenapa harus kami?"
"Proses resminya seperti apa?"
Pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya cukup manusiawi. Karena ketika hidup orang mau digeser, tanggung jawab berubah, ritme kerja berubah, risiko kerja berubah, ya minimal orangnya boleh dong bertanya.
Tapi mungkin atasan langsung saya juga bingung. Karena sepertinya beliau juga dapat informasinya tidak terlalu lengkap. Akhirnya dipanggillah bos kecil, atasan kami yang lebih tinggi satu level.
Nah, si bos kecil ini pun kami ajak diskusi.
Sekali lagi, diskusi ya. Walaupun mungkin dari ekspresi beliau, rasanya seperti sedang masuk ruang ujian tanpa belajar. Kami tanya pelan-pelan, walaupun mungkin nada kami terdengar seperti audit mendadak.
Tapi ya bagaimana. Namanya juga orang mau dipindah. Masa iya kami cuma jawab, “Siap Pak,” lalu pulang sambil menatap langit dan menerima nasib seperti tokoh figuran.
Yang bikin saya agak kecewa, penjelasannya tetap tidak terasa transparan. Intinya kami harus pindah. Titik. Seolah-olah pembicaraan hanya formalitas, sementara keputusan sudah dipaku di tembok.
Padahal saya tidak menolak belajar hal baru. Saya tidak menolak ditempatkan di Warehouse. Saya juga tidak alergi sama gudang. Saya cuma berharap prosesnya dilakukan dengan lebih menghargai orang.
Atau mungkin saya yang terlalu kampungan?
Mungkin di dunia kerja, beginilah cara memindahkan manusia. Tinggal geser, tinggal atur, tinggal tempel di struktur baru. Kalau protes sedikit, dibilang tidak siap berkembang. Kalau bertanya, dianggap banyak alasan. Kalau minta penjelasan, dianggap tidak loyal.
Lucu juga ya.
Kadang perusahaan suka ngomong soal pengembangan manusia, tapi lupa bahwa manusia itu punya perasaan, punya pikiran, dan punya hak untuk diberi penjelasan. Bukan cuma punya NIK karyawan.
Nah, sesuai dugaan saya, coffee morning kali ini ternyata memang membahas soal perpindahan kami. Tapi hebatnya, pembahasannya dibungkus rapi dengan presentasi bertema pengembangan personal dalam perusahaan.
Jadi bukan sekadar “kalian dipindah ya.”
Tapi dikemas menjadi, “kalian harus berkembang.”
Ini level packaging-nya sudah seperti jualan keripik singkong rasa truffle. Isinya tetap singkong, tapi bungkusnya premium.
Kalimat pembukanya cukup menarik.
“Kita jangan terlena dengan pekerjaan yang kita kerjakan sekarang. Coba kinerja kita kalau ditawarkan di luar, apakah diterima, dicari, atau sama sekali tidak punya value?”
Wah, pembukaannya lumayan juga.
Saya langsung mikir, ini coffee morning atau seminar membongkar harga diri karyawan?
Tapi sebenarnya ada benarnya juga. Kita memang tidak boleh terlalu nyaman. Kita tidak boleh merasa aman hanya karena sudah lama mengerjakan satu hal. Bisa jadi kita ahli di tempat sekarang, tapi belum tentu kemampuan kita cukup kuat kalau diuji di tempat lain.
Ini bagian yang saya bisa terima.
Karena benar, manusia harus bertumbuh. Karyawan juga harus belajar. Jangan sampai kita cuma jago karena hafal meja sendiri, hafal orang sendiri, hafal masalah sendiri. Begitu dipindah sedikit, langsung error seperti printer kantor yang disuruh scan.
Tapi yang agak menggelitik adalah ketika pesan berkembang itu kemudian terasa seperti diarahkan ke satu kesimpulan: kalau mau berkembang, ya harus siap ditempatkan di mana saja, tidak usah banyak minta fasilitas, benefit, kompensasi, atau penjelasan.
Nah, di sini saya mulai garuk-garuk kepala.
Bukan karena ketombe. Tapi karena logikanya menarik.
Bertumbuh itu bagus. Fleksibel itu penting. Siap belajar itu mulia.
Tapi transparansi juga penting. Penghargaan terhadap proses juga penting. Komunikasi yang manusiawi juga penting.
Jangan sampai kata “pengembangan” dipakai untuk membungkus keputusan yang sebenarnya kurang dikomunikasikan dengan baik. Karena nanti semua hal bisa dibenarkan dengan kalimat, “Ini demi perkembangan kamu.”
Dipindah mendadak? Demi perkembangan.
Tidak ada penjelasan? Demi perkembangan.
Tidak ada kompensasi? Demi perkembangan.
Bingung? Bagus, berarti berkembang.
Lama-lama kalau printer rusak juga dibilang sedang proses pengembangan spiritual.
Dalam presentasi itu, bos kecil dan bos besar juga sempat melakukan semacam personal branding. Mereka cerita pernah kerja di mana saja, pernah melakukan apa saja, pernah menghadapi apa saja. Intinya seperti ingin menunjukkan, “Ini loh kami. Kami bisa berkembang. Kami tidak banyak menuntut. Kami bisa ditempatkan di mana saja.”
Bagus sih. Saya menghargai pengalaman orang. Apalagi kalau memang mereka sudah melewati banyak hal. Tapi tetap saja, pengalaman orang lain tidak otomatis bisa dijadikan standar tunggal untuk semua orang.
Karena setiap orang punya konteks berbeda. Tanggung jawab berbeda. Beban keluarga berbeda. Posisi awal berbeda. Bahkan cara menerima perubahan pun berbeda.
Yang lucu, si bos kecil sempat mengajarkan penggunaan AI untuk membuat game.
Ini saya agak ketawa dalam hati.
Bukan karena AI-nya salah. AI bagus kok. Saya juga suka pakai AI untuk bertukar pikiran, cari ide, merapikan tulisan, atau bantu kerjaan. Tapi dalam konteks kerja sehari-hari, mungkin akan lebih terasa kalau diajarkan AI untuk cari formula Excel, bikin analisa data, merapikan laporan, atau menyusun alur kerja.
Tapi yang diajarkan malah bikin game.
Ya tidak salah juga sih. Mungkin maksudnya kreativitas. Tapi kepala saya yang receh ini langsung berbisik,
“Wah, kelihatan nih. Tukang main game, bukan tukang mikir formula.”
Maaf ya, pikiran saya memang kadang suka kurang ajar. Tapi setidaknya jujur.
Dalam presentasi itu juga disampaikan bahwa jangan semua masalah langsung dilempar ke atasan. Karyawan harus mikir dulu, cari solusi dulu, baru dibawa ke mereka.
Nah, ini saya setuju.
Memang tidak semua hal harus ditanyakan. Kalau semua hal dilempar ke atasan, nanti atasan jadi seperti Google berjalan. Bedanya Google cepat jawab, atasan kadang jawabnya “nanti kita bahas.”
Tapi di sisi lain, saya juga jadi mikir. Berarti posisi mereka enak juga ya. Kalau masalah kecil, bawahan harus mikir dulu. Kalau masalah besar, keputusan dari atas kadang datang tanpa penjelasan dulu.
Jadi bawahan harus siap mikir, siap eksekusi, siap pindah, siap adaptasi, siap senyum, siap disalahkan, siap ikut coffee morning.
Paket lengkap.
Tapi ya sudahlah.
Saya juga tidak mau terlalu lama menggoreng perkara ini. Nanti malah jadi gosong. Saya cuma merasa lucu saja. Setiap ada hal yang sebenarnya ingin disampaikan ke saya, kok rasanya sering dibungkus dalam forum. Tidak pernah benar-benar duduk satu lawan satu, bicara jujur, jelas, dan terbuka.
Mungkin saya ini terlalu menakutkan kalau diajak bicara personal.
Takut saya pelototin, lalu mereka jadi ganteng.
Hahaha….
Tapi dari semua kejadian ini, saya mau belajar satu hal. Tidak semua proses yang tidak nyaman harus langsung dilawan dengan emosi. Kadang memang perlu bertanya. Kadang perlu menyampaikan keberatan. Kadang perlu meminta kejelasan. Tapi setelah itu, ada bagian yang harus saya serahkan juga.
Saya bisa mengontrol cara saya merespons. Tapi saya tidak selalu bisa mengontrol cara orang lain mengambil keputusan.
Saya bisa meminta proses yang lebih baik. Tapi saya tidak selalu bisa memaksa orang lain menjadi lebih transparan.
Saya bisa kecewa. Tapi saya tidak boleh tinggal terlalu lama di rasa kecewa itu.
Kalau akhirnya saya harus masuk ke dunia Warehouse, ya mari kita belajar. Mari kita lihat apa yang Tuhan mau bentuk dari proses ini. Mungkin ada ilmu baru. Mungkin ada karakter yang sedang dilatih. Mungkin ada pintu lain yang belum kelihatan sekarang.
Karena kadang Tuhan tidak memindahkan kita hanya untuk mengganti ruangan kerja. Kadang Tuhan memindahkan kita untuk membentuk hati, melatih kesabaran, memperluas cara pandang, dan mengingatkan bahwa rasa aman kita tidak boleh bergantung pada posisi.
Hari ini saya mungkin masih banyak bercanda. Masih ada kesal sedikit. Masih ada “lah kok gini amat” di dalam hati. Tapi saya mau belajar tetap jalan.
Bukan karena prosesnya sempurna.
Bukan karena caranya menyenangkan.
Tapi karena saya percaya, di tempat baru pun Tuhan tetap bisa menyertai.
Jadi ya sudah.
Mari kita jalani.
Mari belajar lagi.
Mari bawa hati yang lebih dewasa, walaupun mulut kadang masih receh.
Dan kalau memang saya jadi pindah ke Warehouse, jangan lupa minta TV buat karaoke. Biar kalau stock opname bikin pusing, setidaknya masih bisa nyanyi. Karena hidup sudah cukup berat, masa gudang juga harus sunyi.
Praise Journey
Lagu untuk perjalanan. Cerita untuk jiwa.
Beranda-Jurnal-Musik-Tentang
IKUTI PERJALANAN
Instagram: @praisejourney.id
Spotify: Banyu Darpita
YouTube: Praise Journey
© 2026 Praise Journey-Ruang sunyi untuk iman, musik, dan cerita.
CATATAN KECIL & LAGU
