Dulu saya kira, begitu ada kalimat "menurut pengamat", berarti beritanya sudah pasti netral.
Ada orang pinter, duduk mengamati keadaan, lalu menyampaikan pendapat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman.
Setelah pernah kerja di salah satu media, saya jadi kadang pengen nanya:
"Maaf, ini pengamatnya mengamati keadaan… atau mengamati keinginan yang punya?" Wkwkwk.
Tentu ga semuanya begitu. Tapi pengalaman saya di sana bikin saya mulai membaca berita dengan sedikit tambahan pertanyaan di kepala.

Walaupun, perlu saya jelaskan, saya bukan orang divisi berita.
Divisi saya lebih ke divisi ambur-ambur duid, tapi budget dibatesin.
Nah, bingung kan?
Disuruh bikin sesuatu yang bagus, rame, meriah, berkesan. Begitu anggaran diajukan, disuruh kurangin.
Konsepnya pesta kerajaan. Dananya patungan penghuni kontrakan.
Aduh, ini saya kerja atau lagi ikut ujian mengubah lima roti jadi konsumsi satu gedung?

Kebetulan, pemilik media tempat saya kerja itu juga orang politik.
Dari yang sempat saya lihat dan tangkap selama di sana, ada kalanya ketika pemilik ingin mengangkat isu tertentu, pemberitaannya ikut diarahkan ke sana. Sudut pandangnya dipilih, bagian tertentu ditonjolkan, lalu muncul pendapat yang mendukung arah tersebut.
Salah satu bungkusnya ya itu.
"Menurut pengamat…"
Kedengerannya meyakinkan sekali.
Padahal, dalam beberapa kejadian yang saya ketahui, pengamatnya juga masih berada di lingkaran yang dekat dengan pihak tersebut.
Saya jadi mikir, oh… ternyata selain memperhatikan apa yang diomongin, saya juga perlu memperhatikan siapa yang ngomong dan dari posisi mana dia ngomong.
Orang yang dekat tentu bisa saja menyampaikan pendapat yang benar. Tapi kedekatan itu tetap jadi konteks yang pengen saya tahu sebelum menelan semuanya bulat-bulat.

Ibarat saya mau ikut lomba suami teladan, lalu yang diminta memberi penilaian adalah saya sendiri.
"Menurut pengamat, beliau sabar, bertanggung jawab, dan sangat layak dibelikan mobil."
Pengamatnya saya. Beliaunya juga saya.
Istri belum dimintai keterangan karena dikhawatirkan membawa bukti tandingan.

Tapi saya juga ga bisa sok paling kebal digiring opini.
Kadang baru baca judul, hati sudah panas. Mulut sudah siap komentar. Padahal isi beritanya belum dibuka.
Kuota masih banyak. Kesabaran membaca yang paket hemat.
Misalnya ada judul:
"Warga Resah, Pria Ini Tiap Malam Keluar Masuk Rumah!"
Waduh. Siapa nih? Ngapain nih?
Ternyata bapaknya lagi angkat jemuran. Keluar bawa gantungan, masuk bawa celana. Keluar lagi karena kaos kaki ketinggalan.
Kejadiannya ada. Tapi kesan yang keburu muncul di kepala saya sudah lari ke mana-mana.
Di kantor juga bisa begitu.
"Dia dipanggil atasan."
Lima menit kemudian, di kepala saya sudah ada sidang pelanggaran, surat peringatan, sampai adegan mengemas barang pribadi.
Ternyata cuma ditanya, "Charger kamu ada?"
Makanya sekarang saya merasa perlu baca lebih lengkap, membandingkan pemberitaan, dan kalau memungkinkan mencari pernyataan atau sumber aslinya. Termasuk memastikan itu berita baru atau berita lama yang muncul lagi.
Jangan sampai kejadian tiga tahun lalu bikin saya marah pagi ini. Orang-orangnya mungkin sudah damai, saya malah baru pemanasan.

Saya jadi keinget Amsal 14:15, yang menggambarkan perbedaan antara orang yang begitu saja percaya pada setiap perkataan dan orang bijak yang mempertimbangkan langkahnya.
Ayat ini terasa nyentil saya.
Karena ternyata, saya bisa teliti banget kalau beli barang online. Baca ulasan, lihat foto pembeli, cek bintang satu, sampai memastikan ukuran bajunya ga cuma muat buat keponakan.
Tapi begitu ketemu berita yang cocok sama kekesalan saya, pemeriksaannya langsung longgar.
"Nah! Bener kan!"
Bener apanya, Pak? Dibaca juga belum.
Saya paling gampang percaya kalau beritanya membenarkan dugaan saya sendiri. Kalau yang dibahas orang yang kurang saya suka, rasanya bukti sedikit sudah cukup. Giliran orang yang saya suka, mendadak saya punya seribu alasan pembelaan.
Ternyata yang perlu diperiksa bukan cuma beritanya. Isi kepala saya juga.
Pengalaman kerja di media itu akhirnya jadi pengingat pribadi untuk ga menggantungkan kesimpulan pada satu sumber saja. Saya tetap butuh berita, tetap menghargai kerja orang-orang yang sungguh-sungguh mencari fakta. Saya cuma pengen lebih pelan sebelum percaya, bereaksi, apalagi ikut menyebarkan.
Refleksi tipis hari ini: saya pengen belajar memberi jeda antara membaca dan berkomentar. Biar ada waktu buat akal sehat ikut duduk, sebelum emosi keburu memimpin rapat.
Tuhan, bantu saya lebih cermat menerima kabar. Kalau tangan sudah gatel pengen membagikan berita yang belum jelas, ingetin saya buat baca dulu.
Atau alihkan saja buat cuci piring. Sama-sama menggerakkan jempol, tapi setidaknya ada yang jadi bersih.

Pernah juga keburu emosi gara-gara judul, lalu pas dibaca isinya ternyata beda? Kalau berkenan, cerita ya. Biar saya ada temennya ngaku, wkwk