Kerikil di Sepatu, Bukan di Kepala
Pisahkan yang penting dan yang cuma ganggu. Tenang itu pilihan.
LIFE
Daniel
7/24/20265 min read


Ini buat kamu yang lagi capek hati tapi bibir masih bisa senyum tipis. Tenang, kamu nggak sendirian. Kita semua (iya, kita) pernah jadi atlet cabang “sindir-menyindir” tanpa piala. Duduk manis, pasang muka ramah, tapi di kepala ada caption:
“Catatan untuk semesta: saya mengerti, tapi saya juga manusia.”
Kegiatan sindir-menyindir itu memang seseru itu ya. Seru, karena aman. Seru, karena bisa disayap-sayapkan. Seru, karena kita nggak perlu nabrak langsung. Kita tetap terlihat sopan, bersahaja, manis , lalu menusuk pakai garpu salad kecil yang imut. Budaya ketimuran katanya menjunjung hormat, tapi kadang hormatnya pakai topeng, dan topengnya dobel. Di depan senyum, di belakang dapur, gosipnya sampai bikin ulekan batu berdenting.
Paling klasik:
“Lho, berangkat jam segitu, Kak Tampan?
Hebaaat…” Nada “hebat” yang artinya “tengil”, bukan “bravo”. Saya ngakak dalam hati. Kayak berangkat jam segitu itu dosa berat. Padahal, mungkin jarak rumah saya lebih jauh dari imajinasi mereka. Kalau dihitung, saya bisa tamat tiga episode dracin sepanjang perjalanan, versi tanpa iklan.
Yang bikin lucu, sindiran-sindiran begini jarang mau ambil nomor antrian untuk bicara langsung. Kenapa? Karena bicara langsung butuh nyali, butuh struktur kalimat, butuh alasan. Kalau sindir? Tinggal lempar kata “hebat”, “mantap”, “wadaw”, terus lari zig-zag. Aman. Kalau ada yang komplain, tinggal jawab,
“Lho, saya kan muji…”
Masalahnya, otak manusia suka kepo dengan hal samar. Begitu ada suara melayang .“Waaaa berangkat jam segini?” pikiran otomatis bikin meeting darurat.
“Itu buat saya? Atau buat saya juga? Atau buat saya lagi tapi edisi deluxe?”
Rasanya pengen nanya langsung: “Maksudnya apa, Pak?” Tapi ya, hidup mengajarkan saya untuk hemat energi. Ada hal-hal yang lebih butuh baterai penuh: kerjaan yang mepet, keluarga yang nunggu kabar, dan ayam goreng paha atas yang berlumur sambal matah.
Jadi saya pilih gaya cool. Nggak dibalas, nggak dipanjangin. Saya kasih ruang untuk mereka menikmati karyanya sendiri. Saya tahu, semesta biasanya punya cara mengantarkan paket karma tepat waktu, tanpa perlu saya tracking nomor resinya. Saya hanya duduk, minum air putih, lalu ngecek notifikasi pekerjaan yang beneran penting. Sambil senyum, tentu saja. Senyum yang bukan topeng , lebih ke sunscreen, melindungi dari radiasi sinar “hebat”.
Tapi saya bukan malaikat. Ada momen di mana tangan gatel pengen bales. Bukan bales yang murahan, ya. Saya juga punya cita-cita: kalaupun harus menyindir, saya ingin yang bersih, telak, berkelas, nggak meninggalkan minyak di meja makan. Kayak main badminton: netting tipis, lawan maju, saya lob manis. Bukan smash asal marah-marah. Kita bukan di turnamen emosi.
Saya sering mikir, kenapa sih sindiran ini laris? Mungkin karena hidup kita udah penuh pagar. Pagar birokrasi, pagar atasan, pagar “nanti tersinggung”, pagar “nanti dibilang kasar”, pagar “nanti grup WA rame”. Sindir itu jalan tikus. Jalan yang bisa dipakai tanpa CCTV hati nurani. Dan kita bangga bisa nemu celahnya. Padahal, kalau dipikir, celahnya itu numpang di punggung orang lain.
Di kantor, sindiran itu punya aroma khas. Campuran parfum diskon, kopi sachet, dan deadline. Ada sindir soal jam datang, ada sindir soal pulang cepat, ada sindir soal rapat yang “katanya” penting tapi setengahnya isinya menatap wallpaper laptop. Saya pernah ada di situ. Duduk, denger komentar yang sengaja dinaikkan volumenya satu tingkat. Saya tahan. Bukan karena kalah. Karena saya tahu, saya perlu menang di tempat yang benar.
Orang bilang, “Kalau kamu benar, buktikan.” Nah, bukti terbaik kadang bukan kata-kata, tapi hasil. Kayak ngerjain proyek yang semua bilang “mustahil” karena datanya berantakan, timnya nyebar, jalurnya zig-zag. Saya pilih masuk hutan satu-satu, tandai pohon, pasang peta. Begitu proyek jalan, biasanya suara “hebat” itu berubah: “Wah, kok bisa ya?” Bisa, Bu. Bisa, Pak. Soalnya saya pilih kerja, bukan berpantun.
Saya juga belajar bedain sindiran yang perlu ditanggepin dan yang sebaiknya dibiarkan menguap. Kalau yang nyindir jelas-jelas butuh data, ya saya kasih data. Bukan marah, bukan balas lucu. Data itu seperti kaca bening: dia nggak teriak, tapi memantulkan apa adanya. “Oh, ternyata jarak rumah saya 28 km, makanya saya berangkat jam segitu. Ini rute dan titik macetnya.” Biasanya, obrolan berhenti di situ. Kalau masih lanjut? Ya sudah, itu bukan percakapan; itu lomba lari dari logika.
Kalau sindirannya sekadar cari panggung, saya kasih panggung yang padam lampunya. Nggak saya respons, nggak saya like, nggak saya kasih reaksi “haha”. Sunyi itu sering lebih tegas daripada seribu tanda seru. Dan sunyi itu enak, bisa sambil minum teh.
Kadang ada juga yang menyindir sambil senyum baik.
“Saya tuh salut sama Kakak, kuat ya…”
Nada “kuat” nya bikin saya ingin mengusap dada dan paha ayam simultan. Tapi saya jawabnya tetap ramah. “Makasih, Bu. Doain sehat.” Saya akui, kalimat itu bukan jurus jitu. Tapi dia menyelamatkan saya dari kalimat-kalimat yang nanti bikin saya menyesal sendiri di malam hari.
Satu hal lagi: sindiran itu menular. Kalau kita konsumsi tiap hari, lama-lama jadi gaya komunikasi resmi. Kita pikir itu lucu, padahal capek. Kita kira itu cerdas, padahal rumit. Saya nggak mau hidup saya jadi permainan tebak-tebakan makna. Saya suka hal-hal yang jelas: jam kerja, target, nopol kendaraan, jadwal servis. Kalau mau protes, protes. Kalau mau puji, puji. Jangan bikin kata “hebat” jadi kode Morse.
Apakah saya selalu berhasil? Nggak juga. Ada harinya saya lelah, lalu pikiran pengen ngajak duel kata-kata. Tapi setiap kali hampir terpeleset, saya ingat satu hal: waktu saya terbatas. Energi saya terbatas. Dan saya punya prioritas yang lebih penting daripada menang di kolom komentar yang tak terlihat.
Jadi, strategi saya sederhana. Prioritasin kerja yang nyata. Rawat hubungan yang beneran. Simpan humor untuk yang pantas. Dan kalau terpaksa harus menyindir, saya pastikan dia berbentuk cermin, bukan pisau. Cermin untuk saya juga, supaya saya nggak ikut jadi versi orang yang saya keluhkan.
Kembali ke “Kak Tampan” dan jam berangkat itu. Saya sebenarnya pengen jawab: “Iya, Pak, saya berangkat jam segini karena GPS saya disetel ke kenyataan, bukan ke asumsi.” Tapi saya simpan. Saya bungkus rapi, taruh di laci. Siapa tahu suatu hari dibutuhkan untuk naskah stand-up komedi internal, lengkap dengan efek ketawa kaleng.
Sampai saat itu, saya akan tetap berangkat di jam yang membuat saya tiba tepat waktu , bukan tepat selera orang. Saya akan tetap pulang di jam yang tidak merugikan siapa pun, termasuk dompet saya. Dan kalau ada yang “hebat” lagi, saya akan tersenyum. Senyum yang artinya: “Saya dengar, saya paham, saya tidak tertarik.”
Lucunya, saat kita nggak memberikan panggung, beberapa orang akhirnya duduk. Mereka capek berdiri sendirian. Mereka butuh partner dialog, bukan penonton. Saat itu terjadi, baru saya ajak ngobrol baik-baik. Bukan untuk debat, tapi untuk negosiasi kenyataan. Kenyataan bahwa kita semua punya jarak tempuh masing-masing, punya ritme masing-masing, dan punya beban yang tidak kelihatan di excel siapa pun.
Akhirnya, saya belajar hal paling sederhana: sindiran itu sebetulnya minta perhatian. Dan perhatian paling mahal adalah fokus. Fokus yang saya punya akan saya belanjakan untuk hal yang menghasilkan, bukan untuk menanam duri di kebun orang. Saya lebih suka menanam cabai. Kalau pedas, minimal bisa sambil makan.
Jadi kalau besok ada yang bilang lagi, “Hebaaat, berangkat jam segitu…” saya akan jawab,
“Iya, Pak. Biar nyampe tepat waktu. Yang telat biar cuma dracin episode berikutnya.”
Lalu saya jalan. Santai. Mengalir. Tanpa drama. Karena pada akhirnya, kelas itu bukan apa yang kita ucapkan, tapi apa yang kita pilih untuk tidak ucapkan.
Dan kalau kamu baca ini sambil ngangguk, mungkin kamu juga “atlet” yang sedang pensiun. Selamat. Kita pindah cabang aja: dari sindir-menyindir ke seni menghemat energi. Dari nyeleneh pasif-agresif ke jujur yang nggak keras kepala. Dari “hebat” palsu ke kerja yang benar-benar hebat. Sisanya? Serahkan ke semesta. Katanya, dia punya sistem kurir yang tepat waktu.
Ya sudahlah. Saya elus dada , dan kalau masih gatal, saya elus paha ayam. Biar lengkap.
Praise Journey
Lagu untuk perjalanan. Cerita untuk jiwa.
Beranda-Jurnal-Musik-Tentang
IKUTI PERJALANAN
Instagram: @praisejourney.id
Spotify: Banyu Darpita
YouTube: Praise Journey
© 2026 Praise Journey-Ruang sunyi untuk iman, musik, dan cerita.
CATATAN KECIL & LAGU
