Sudah Kasih Jalan, Kok Nggak Dikasih Jalan?

Belajar memahami Golden Rule tanpa menjadikan kebaikan sebagai sistem tukar poin.

LIFE

Banyu

7/28/20262 min read

Kadang saya berpikir, kalau semua orang menjalankan Matius 7:12, mungkin hidup akan jauh lebih damai.

Atau minimal, keluar gang nggak perlu menunggu sampai pergantian zaman.

Renungan hari ini bilang:

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah inti Taurat dan Nabi-nabi.”
— Matius 7:12

Ayat ini sering disebut sebagai Golden Rule atau Hukum Emas. Sederhananya, kalau kita ingin diperlakukan dengan baik, ya perlakukanlah orang lain dengan baik juga.

Kelihatannya gampang.

Tapi begitu dibawa ke jalan raya, teorinya mulai agak goyang.

Saya termasuk orang yang lumayan baik kalau di jalan. Ada orang mau menyeberang, saya kasih jalan. Ada kendaraan mau belok, saya pelankan motor. Lampu merah, saya berhenti dan membiarkan kendaraan dari arah lain lewat.

Eh, yang terakhir memang kewajiban sih. Bukan perbuatan mulia. Kalau diterobos, namanya bukan berbuat baik, tapi cari perkara. Wkwkwk.

Masalahnya, ketika giliran saya mau belok, kok nggak ada yang kasih jalan?

Semuanya melaju kencang, seolah-olah sedang mengejar warisan. Pas saya mau menyeberang juga sama. Bukannya dipelankan, malah gasnya ditambah.

Lalu saya mulai bertanya-tanya:

“Apakah Golden Rule sedang tidak berlaku di daerah ini?”

Tapi setelah direnungkan lagi, ternyata Matius 7:12 bukan sedang mengajarkan sistem barter kebaikan.

Bukan berarti saya kasih jalan hari ini, lalu besok seluruh pengendara wajib memberi saya jalan. Bukan juga berarti saya tersenyum kepada orang lain, lalu mereka harus langsung tersenyum balik. Bisa saja mereka sedang sakit gigi. Kita nggak pernah tahu.

Golden Rule lebih banyak berbicara tentang bagaimana saya memilih bersikap, bukan bagaimana orang lain wajib membalas.

Saya tidak membenci karena saya tahu rasanya dibenci. Saya tidak mengambil milik orang lain karena saya juga tidak ingin kehilangan. Saya membantu bukan supaya suatu hari orang itu berutang bantuan kepada saya.

Saya melakukannya karena itulah yang baik dan yang Tuhan kehendaki.

Sebab kalau semua kebaikan harus langsung mendapat balasan, lama-lama hubungan dengan Tuhan pun bisa terasa seperti transaksi.

“Saya sudah berdoa tujuh hari tujuh malam, Tuhan. Mana mobilnya?”

Padahal mungkin Tuhan melihat garasi saya saja belum ada.

Wkwkwk.

Berbuat baik bukan cara untuk memaksa hidup memberikan apa yang kita inginkan. Kebaikan juga bukan kupon yang bisa dikumpulkan lalu ditukar dengan berkat.

Kita berbuat baik karena hati kita sedang belajar mengikuti tuntunan Tuhan. Soal kapan, lewat siapa, dan dalam bentuk apa kebaikan itu kembali, biarlah menjadi urusan-Nya.

Mungkin hari ini orang yang kita beri jalan tidak membalas apa-apa. Tetapi setidaknya kita sudah membuat dunia sedikit lebih manusiawi—meskipun cuma selama tiga detik di depan gang.

Jadi, kalau nanti saya memberi jalan tapi tetap tidak diberi jalan, ya sudah.

Tarik napas. Senyum tipis. Jangan langsung berubah menjadi pembalap MotoGP.

Karena refleksi hari ini sederhana: tetaplah berbuat baik, meskipun dunia kadang lupa membalas. Jangan sampai karena tidak diberi jalan, kita malah kehilangan jalan yang Tuhan ajarkan.

Kalau hari ini ada kesempatan kecil untuk memperlakukan seseorang dengan baik, lakukan saja.

Siapa tahu dia sedang butuh diberi jalan, secara harfiah maupun secara hidup.