Tahun Ini Kok Rasanya Saya Kayak Magnet Ujan & Drama

Dari bisul, migren, sampai atasan saya "di-3-bulan-kan" - saya cuma pengen hidup adem, kok.

LIFE

Banyu

7/24/20265 min read

Sore ini saya mau jujur ya… saya tuh punya feeling yang lumayan akurat. Bukan feeling soal saham, bukan. Kalau itu mah saya feelingnya langsung hilang pas liat grafik merah. Ini feeling yang lebih sederhana: tahun ini saya kayak lagi “tidak beruntung”. Eh tidak beruntung juga terlalu formal. Apes? Tapi apes tuh kayak lucu, padahal yang saya alami tidak selalu lucu. Sial? Aduh jangan sial, takutnya nanti semesta merasa ditantang. Jadi saya pilih istilah paling aman: tahun ini saya lagi kurang hoki, wkwkwk.

Mulainya dari awal tahun. Tiap berangkat kerja ujan. Dan ini bukan ujan yang romantis “hujan-hujan naik motor, jadi makin sayang”. Ini ujan yang tipe “ya Tuhan, helm saya jadi aquarium mini”. Saya sampai mikir, jangan-jangan awan itu punya jadwal:

“Jam 5.10: awan kumpul. Jam 5.12: Saya keluar rumah. Jam 5.13: GASKEUN.”

Rasanya semesta tuh ngasih briefing ke langit:

“Ingat ya, target lewat gang itu. Jangan miss.”

Terus lanjut… bisul. Saya juga heran, kenapa sih tubuh saya tiba-tiba pengen punya “bonus konten” di kulit? Bisul itu kan tidak ada manfaatnya ya. Bukan skill baru. Bukan badge pencapaian. Bukan “level up”. Ini lebih ke “event musiman” yang tidak saya minta. Dan lucunya, bisul itu munculnya suka sok misterius. Dia tidak pakai undangan. Tahu-tahu nongol aja, kayak tamu jauh yang datang pas kita lagi jemur baju dalam.

Belum selesai, ada lagi: migren hampir tiap hari. Ini kepala saya kayak punya notifikasi internal:

“Selamat pagi! Anda mendapatkan 1 sakit kepala gratis. Mau tukar poin?”

Saya mau tukar, tapi poinnya ga bisa dipakai buat apa-apa. Mau saya tukar jadi diskon kopi pun ga bisa. Yang ada saya minum kopi malah tambah deg-degan, kepala makin debat sama jantung.

Terus… plat motor belakang saya ilang. Hilang itu rasanya kayak kehilangan identitas. Motor saya jadi kayak orang yang lupa pakai name tag di kantor: lewat satpam langsung ditanya, “Mas dari mana?” Saya jadi curiga plat itu kabur karena dia capek ikut saya kehujanan tiap pagi. Platnya mungkin resign diam-diam. Tidak pamit. Tidak serah terima. Tidak ada BA serah terima plat. Yaudah hilang, saya cuma bisa bilang: “Selamat ya, plat. Semoga kamu bahagia.”

Kalau diitung-itung, ternyata lumayan juga daftar “kurang hoki” saya. Dan hari ini… saya merasa daftar itu dapat update versi terbaru.

Soalnya begini: atasan langsung saya, yang biasanya back-up saya, kontraknya tidak diperpanjang. Dikasih waktu tiga bulan lagi. Tiga bulan itu sebenernya lama kalau buat diet. Tapi kalau buat persiapan mental kerja… rasanya cepat banget.

Begitu dengar kabar itu, reaksi pertama saya bukan sedih yang dramatis kayak sinetron. Reaksi pertama saya adalah… panik kecil di dada. Panik yang bentuknya bukan teriak, tapi kayak ada suara kecil:

“Wah… abis deh saya.”

Karena jujur ya, saya tuh nggak terlalu cocok sama atasan-atasan yang “di ujung sana”. Yang tipe-tipe… gimana ya… yang kalau diajak ngomong suka bikin kita pulang dengan pertanyaan eksistensial:

“Saya kerja di sini atau saya lagi uji nyali?” Wkwkwk.

Dan otomatis pikiran saya lari ke masa lalu: “Wah jangan-jangan saya bakal dimutasiin lagi kayak kemarin.” Dulu saya sempet ngerasain tuh, dipindah-pindah tanpa dialog yang manusiawi. Jadi sekarang begitu ada tanda-tanda perubahan, otak saya langsung buka mode: antisipasi + overthinking + siaga 1.

Tapi di tengah panik itu… ada sisi lain saya yang ngomong, pelan:

“Yaudah sih, sekarang saya lebih legawa. Mau dimutasiin ke mana aja hayu.”

Nah ini lucu ya. Kadang kita tuh baru kuat setelah capek. Bukan karena kita sudah kebal, tapi karena kita sudah… yaudah lah ya. Bukan pasrah yang kalah, tapi pasrah yang sadar: hidup ini nggak bisa kita pegang semua.

Cuma ya… tetap aja ada rasa. Rasa khawatir, rasa mikir, rasa deg-degan. Soalnya atasan saya ini bukan cuma atasan. Dia tuh kayak penyangga kecil di tengah kantor yang suka bikin orang bingung sendiri. Dia yang ngerti ritme kerja saya. Dia yang biasanya jadi “tameng” kalau ada drama yang mau nyerempet saya.

Dan saya tahu, kalau beliau nggak ada, kemungkinan besar akan muncul hal-hal yang bikin saya garuk-garuk kepala (yang sudah migrenan ini). Saya bisa kebayang:

  • keputusan yang berubah-ubah,

  • komunikasi yang mendadak “pokoknya gitu”,

  • kerjaan yang harusnya jelas jadi “nanti lihat aja”,

  • dan drama-drama kecil yang sebenernya bisa selesai kalau orang mau ngomong baik-baik.

Jadi ya saya mikir: “Oke. Kalau begitu, saya harus siap.”
Bukan siap jadi orang paling kuat sedunia. Tapi siap jadi orang yang punya plan B.

Dan tiba-tiba, tanpa saya minta, hidup kayak ngasih saya memo internal:

“Kerja keras lagi, cari sampingan, terus cabut.”

Wkwkwk ini kedengarannya galak ya, tapi ada benarnya. Kadang hidup itu dorong kita bukan karena benci, tapi karena mau kita bergerak. Cuma cara dorongnya ya… agak barbar.

Terus ada momen yang bikin saya ketawa pahit: atasan saya bilang, “Saya nitip kamu ya ke mereka.”
Saya langsung batin: “Ngapain bu… saya juga bisa jalan sendiri kok.”
Di mulut saya mungkin bilang, “Siap bu.” Tapi di hati saya:


“Gapapa bu, kalau saya didepak juga ikhlas.”

Nah ini nih, saya juga suka heran sama diri sendiri. Kok saya bisa ngomong ikhlas, tapi di dalam masih ada getar kecil: “Ih kok gini sih…” Berarti saya ini ikhlas versi cicilan ya? Ikhlas tapi dicicil per bulan, tenor 12 bulan, bunga perasaan 0,8%. Wkwkwk.

Terus, ada lagi. Katanya saya pendiam.
Eaaa… pendiam apanya? Saya mah bukan pendiam. Saya cuma… hemat ngomong. Biar kata-kata saya nggak cepat habis sebelum tanggal gajian.
Saya bukan pendiam, saya tuh strategis. Saya ngomong kalau perlu. Kalau nggak perlu, saya simpan tenaga buat mikir, buat kerja, buat pulang.

Kadang orang suka salah paham. Mereka kira yang cerewet itu aktif, yang diam itu pasif. Padahal kadang yang diam itu justru lagi mikirin:

“Kalau saya ngomong sekarang, saya capek sendiri nanti.”

Jadi ya saya pilih diam, bukan karena kalah, tapi karena saya sayang energi saya.

Terus pertanyaan pamungkas saya sore ini muncul:

“Apakah ini akan menambah nasib buruk saya tahun ini?”

Kalau saya jawab versi drama: iya, ini tambah buruk.
Tapi kalau saya jawab versi yang lebih waras: ini cuma perubahan. Dan perubahan itu memang suka bikin takut, karena kita nggak tahu bentuknya nanti.

Mungkin tahun ini bukan tahun sial. Mungkin ini tahun… dibentuk.
Dan dibentuk itu ya… tidak enak. Kayak adonan, dipencet-pencet, dibanting-banting, disuruh mengembang. Kita maunya jadi roti manis, tapi prosesnya kayak jadi cilok yang dilempar-lempar, wkwkwk.

Tapi saya sadar satu hal: selama ini saya terlalu menggantungkan rasa aman pada “orang yang back-up”. Padahal yang paling ideal adalah: saya punya pijakan sendiri. Punya skill yang makin tajam. Punya tabungan yang makin tebal (amin). Punya side hustle yang jalan. Punya mental yang nggak gampang kebakar cuma karena satu perubahan.

Jadi mungkin, kabar ini bukan akhir. Ini alarm.
Bukan alarm yang bunyinya “kamu gagal”, tapi alarm yang bunyinya:

“Bangun. Siap-siap. Bikin pegangan baru.”

Dan kalau nanti beneran ada drama, yaudah. Saya hadapin satu-satu.
Kalau saya dimutasiin, yaudah. Saya jalani.
Kalau saya didepak, yaudah. Saya cari jalan.
Ternyata saya lebih kuat dari yang saya kira? Bisa jadi.

Karena selama ini juga saya sudah melewati hujan, bisul, migren, plat ilang… dan saya masih bisa ketawa “wkwkwk”. Berarti saya ini bukan kalah. Saya cuma… lagi latihan tahan banting.

Sore ini saya cuma mau nutup dengan refleksi kecil:
Kadang hidup itu bukan soal “tahun ini hoki atau tidak”. Kadang hidup itu soal: di tahun ini, saya belajar apa tentang diri saya sendiri.
Belajar legawa. Belajar siap. Belajar nggak bergantung. Belajar bikin rencana. Belajar menata hati. Dan belajar, tetap jadi manusia, walau kepala migrain.

Kalau tahun ini memang tahun “kurang hoki”, yaudah. Saya terima.
Tapi saya juga mau bilang ke diri sendiri:


“Saya masih bisa bikin tahun ini berarti.”


Walau jalannya becek. Walau hujannya rajin. Walau semesta kadang ngeselin.

Dan siapa tahu… ternyata ini bukan nasib buruk. Ini cuma cara hidup bilang:

“Ayo, naik level. Tapi pelan-pelan aja, jangan sambil nangis di parkiran.”
Wkwkwk.